Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
Chairil Anwar
1946
Republished by Blog Post Promoter
Incoming search terms:
- puisi senja di pelabuhan kecil
- lirik puisi chairil anwar senda dipelabuhan kecil
- makna puisi senja di pelabuhan kecil
- analisis puisi senja di pelabuhan
- senja di pelabuhan kecil karya chairil anwar
- puisi senja di pelabuhan kecil karya chairil anwar
- PUISI SEJA DI PELABUHAN KARYA CHAIRIL ANWAR
- puisi chairil anwar senja diplabuhan kecil
- naskah puisi senja dipelabuhan kecil
- kaji puisi di pelabuhan kecil



Salam budaya!
dimana saya bisa mendapatkan buku Tiga Menguak Takdir (1950) (dengan Asrul Sani dan Rivai Apin), Aku Ini Binatang Jalang: koleksi sajak 1942-1949″, diedit oleh Pamusuk Eneste, kata penutup oleh Sapardi Djoko Damono (1986), Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948), terjemahan karya Andre Gide. apakah masih berdar?
Puisi yg dalam makna dan kata.
Susah dbawakn, tp mudah dnikmati.